Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Bekerja Untuk Indonesia

Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Biduk Kebersamaan

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Kesungguhan Membangun Peradaban

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

Senin, 12 Desember 2011

Penjajahan (Al-Istikhraab)



8/12/2011 | 13 Muharram 1433 H | Hits: 569
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print
Ilustrasi - Pasukan militer Belanda ketika menjajah Indonesia (inet)
dakwatuna.com – “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat” (QS. An-Naml: 34).
Indonesia adalah negara besar dan berpenduduk muslim terbesar di dunia. Namun kebesarannya belum mencerminkan besarnya kedudukan dan posisi tawar di hadapan bangsa-bangsa di dunia, khususnya Amerika Serikat, Eropa dan negara-negara maju lainnya. Terbukti banyak perusahaan asing multinasional yang begitu kokoh di Indonesia, walaupun banyak merugikan bangsa Indonesia, seperti Exxon Mobil, Freeport, Newmont dll.
Realitas ini menunjukkan betapa lemah dan tidak berdayanya pemerintah Indonesia terhadap intervensi asing. Negara terkaya di dunia, begitu mudahnya membiarkan bangsa asing menjajah. Mereka merusak moral dan mengeruk kekayaan alam serta mengekor pada sistem ekonomi riba yang mereka terapkan. Akibatnya Indonesia menjadi negara yang paling miskin, rusak moralnya, paling rusak kekayaan alamnya dan pengutang terbesar.
Makna Penjajahan
Dalam bahasa Arab istilah penjajahan disebut dengan “isti’maar”. Ungkapan ini tentu tidak tepat karena artinya memberi kemakmuran. Sebagaimana disebutkan dalam surat Huud 61,
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.”
Sedangkan penjajah selalu menimbulkan kerusakan. Maka istilah yang tepat adalah “istikhraab”. Penjajahan selalu menimbulkan kehinaan, kerusakan dan kehancuran. Itulah ungkapan yang pernah dilontarkan Ratu Bilqis yang diabadikan dalam Al-Qur’an, Dia berkata:
“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat” (QS. An-Naml: 34).
Sedangkan sosok sang penjajah yang ditampilkan dalam Al-Quran dan sering diulang-ulangnya adalah Fir’aun. Al-Qur’an menyebutkan beberapa karakteristiknya,
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qhashash: 4).
Penjajah dalam Al-Qur’an
Allah SWT menyebutkan kisah Musa AS versus Fir’aun, dan Bani Israil, yang memakan banyak tempat dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu sudah selayaknya bagi umat Islam bahkan umat manusia secara keseluruhan untuk mengkaji dan menyelidiki pelajaran dibalik kisah ini. Karena tidak mungkin Allah menyuguhkan kisah yang menjadi salah satu tema besar dalam Al-Qur’an, dibuat tanpa arti. Dari kisah-kisah panjang tersebut, maka disimpulkan bahwa Al-Qur’an, menjadikan Fir’aun sebagai nama dan simbol utama Sang Penjajah.
Dari kisah Musa AS, Fir’aun, dan Bani Israil, banyak pelajaran yang dapat diambil, di antaranya:
  1. Dunia ini menjadi tempat pertarungan antara al-haq (kebenaran) dan al-bathil (kebatilan)
  2. Para nabi adalah pelopor dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan akan selalu berhadapan dengan para penguasa zhalim yang memeranginya.
  3. Fir’aun adalah ikon penguasa zhalim dan sejarah akan berulang dengan tokoh dan waktu yang berbeda.
  4. Fir’aun adalah sang penjajah yang senantiasa membuat kerusakan dan akan mengalami pengulangan sejarah.
  5. Kebenaran dan kebatilan selalu ada pengikutnya. Dan inilah inti dari ujian di dunia.
  6. Penjajah selalu menimbulkan kerusakan dan kehancuran baik moral maupun material.
  7. Orang-orang Yahudi dari Bani Israil menjadi musuh utama para nabi dan pengikutnya sepanjang masa.
  8. Para nabi dan pengikutnya dari orang-orang beriman menjadi pemenang pada akhir dari setiap kisah pertarungan ini.
Penjajahan Modern
Dapat dikatakan bahwa penjajahan modern terjadi setelah perang Salib antara umat Islam dan bangsa Barat yang berlangsung selama sekitar 2 abad. Walaupun bangsa Barat mengalami kekalahan militer dari perang ini, tetapi mereka mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, di antaranya penemuan wilayah-wilayah baru dan kebangkitan industri hasil penetrasi budaya dari umat Islam.
Bangsa Barat mulai melakukan penjelajahan ke wilayah-wilayah baru tersebut untuk mencari bahan baku bagi industri mereka. Dan manuver mereka berakhir pada penjajahan tempat-tempat yang mereka singgahi. Inggris menjajah Malaysia, Filipina, India dan sebagian Timur Tengah. Prancis menjajah wilayah-wilayah di Afrika Utara, Belanda menjajah Indonesia dan demikianlah bangsa Barat menjadikan negeri Islam dan negara berkembang wilayah jajahannya. Penjajahan ini disebut dengan penjajahan langsung.
Penjajahan langsung bangsa barat terhadap negeri-negeri muslim berlangsung sampai sekitar tahun 1945. Di Era Penjajahan langsung, para penjajah benar-benar melakukan apa saja dan mengambil apa saja terhadap wilayah jajahannya. Mereka berupaya menundukkannya dengan menghalalkan segala macam cara. Termasuk pemaksaan terhadap budaya dan agama setempat. Masyarakat pribumi banyak yang menjadi korban jajahan termasuk korban al-ghazwul al-fikri (perang pemikiran), sehingga agama baru berkembang di negeri-negeri muslim dan berkembang. Banyak di antara mereka banyak yang berpindah agama dari Islam atau lainnya ke agama Penjajah yaitu Kristen.
Sekitar tahun 1945 terjadi kemerdekaan secara massal, yaitu kemerdekaan negeri-negeri muslim dari penjajahan secara langsung. Tetapi sejatinya kemerdekaan belum penuh dirasakan oleh negeri-negeri muslim. Karena para penjajah tidak begitu saja meninggalkan daerah jajahannya sebelum mereka menanam bom waktu. Para penjajah berhasil menanam kader-kadernya menjadi pemimpin dengan sistem pemerintahan sekuler yang berkiblat pada barat.
Mulailah bentuk penjajahan baru, penjajahan secara tidak langsung tersebut bernama globalisasi yang menempatkan Amerika Serikat sebagai pemain utama dalam penjajahan. Peran AS didukung negara-negara sekutunya dari Eropa, Australia dan Israel. Amerika Serikat telah membentuk dirinya sebuah kekuasaan global dimana negara-negara lain tunduk dan patuh pada kepentingannya.
John Perkins seorang yang sebelumnya bekerja sebagai EHM (Economic Hit Man, Penghancur ekonomi) menceritakan dalam bukunya pengalaman bagaimana AS menguasai dunia. EHM adalah agen-agen AS yang di-backup CIA dan perusahaan multinasional AS untuk menawarkan pinjaman sangat besar kepada kepala pemerintahan negara-negara berkembang. Berbagai macam strategi untuk meyakinkan kepala pemerintahan dibuat, termasuk strategi yang paling licik, dengan suap, wanita atau tawaran yang lain yang menggiurkan.
Langkah EHM untuk memberikan penawaran pinjaman banyak menuai hasilnya. Negara-negara berkembang berlomba mendapat pinjaman tersebut. Pada saat yang sama mereka harus menerima persyaratan utamanya, yaitu bahwa setiap proyek pembangunan hasil pinjaman tersebut yang melaksanakan proyek adalah perusahaan multinasional AS. Jadi pada hakikatnya sebagian besar uang pinjaman itu tidak pernah berpindah dari AS. Uang itu hanya berpindah transfer dari perbankan di Washington ke bagian rekayasa di New York. Sedangkan negara-negara berkembang harus membayar beban utang sekaligus bunganya.
Indonesia dan Ekuador adalah di antara negara korban kekuasaan global AS. Di Ekuador perusahaan minyak Texaco telah merubah dan meratakan hutan tropis menjadi kubangan comberan yang membuat punah 15 % spesies burung dunia dan ribuan tanaman yang belum diklasifikasikan. Pipa sepanjang 300 mil telah menembus utang dan gunung di sana. Untuk setiap$100 nilai minyak mentah, perusahaan minyak AS menerima $ 75. Sisanya untuk bayar utang dan biaya anggaran pemerintah, sementara rakyat yang miskin hanya menerima sekitar $ 2,5 saja, dan itu untuk biaya kesehatan pendidikan dan bantuan.
Di Indonesia lebih parah lagi, perusahaan Freeport telah mengeksploitasi kekayaan emas dan tambang lainnya dan dibawa ke AS. Sedangkan dampaknya, kerusakan alam dan lingkungan begitu sangat mengerikan. Penduduk Papua yang mengais-ngais rezeki dari tailing atau sisa-sisa galian gunung ditembaki. Perusahaan AS lainnya seperti, Exxon Mobil, Newmont, Caltex dll. berebutan mendapatkan rezeki dari kekayaan alam Indonesia, mereka seperti sekelompok serigala lapar memperebutkan makanan.
Jika langkah EHM menawarkan pinjaman modal tidak berhasil, maka yang terjadi adalah langkah berikutnya. Orang-orang EHM menyebutnya dengan istilah langkah serigala. Para serigala langsung mengintai kepala pemerintahan untuk dijadikan mangsanya. Kepala negara dibunuh, dikudeta atau tewas dalam kecelakaan yang mengerikan. Inilah yang terjadi pada Jaime Roldos, presiden Ekuador, Omar Torrijos, presiden Panama, Zhiaul Haq, presiden Pakistan dan mungkin masih banyak lagi presiden yang menentang AS mengalami nasib serupa.
Dan jika serigala-serigala itu juga gagal mengeksekusi tugasnya, maka yang terjadi adalah invasi langsung kepada negara-negara itu. Inilah yang terjadi pada Irak, Afghanistan dan sebelumnya terjadi pada Somalia, Vietnam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa AS telah menempatkan diri menjadi kekuasaan global, polisi dunia dan penjajah utama dengan melakukan segala caranya baik penjajahan tidak langsung maupun penjajahan langsung.
Penjajahan itu telah mengakibatkan kerusakan yang sangat dahsyat pada semua aspek kehidupan. 24.000 manusia setiap hari meninggal karena sakit dan kelaparan. Kerusakan moral akibat pornografi dan pornoaksi, konflik perang saudara, kerusakan sosial masyarakat dengan merebaknya Narkoba, perjudian dan miras, kerusakan lingkungan dan pencemaran limbah.
Karakteristik Penjajah
Dari uraian di atas, maka tepatlah ketika Al-Qur’an menyebutkan tentang karakteristik penjajah, surat An-Naml 34, Dia berkata:
“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat”.
Surat Al-Qhashash 4,
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Al-Qhashash: 4).
Para penjajah memiliki karakteristik internal, yaitu melampaui batas (tughyaan), mendustakan Islam (takdzib), menyimpang (‘ishyaan), dan takabbur atau sombong (‘ulu). Dan puncak kesombongan Fira’un sampai pada batas dia mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa agung yang harus diikuti dan ditaati oleh rakyatnya. Disebutkan dalam surat An-Naa-zi’aat 17-24,
“Pergilah kamu kepada Fir’aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas. Dan Katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.”
Sedangkan sifat eksternal dari Fir’aun diungkapkan dalam surat Al-Qhashash 4, yaitu memecah belah atau menjalankan politik Divide Et Impera (syi’aan), menjadikan lemah dan tidak berdaya kelompok-kelompok yang ada di masyarakat (tadh’iif), merusak lingkungan dan merusak moral rakyatnya (ifsaad), menjadikan rakyatnya rendah dan tunduk kepada kekuasaannya (dzillah) dan puncaknya adalah membunuh (dzabh wal qotl) jika melawan dan bertentangan dengan sikap atau pendapatnya.
Seluruh sifat-sifat penjajah yang ada pada Fir’aun tersebut, sekarang sangat kontras dan nyata ada pada penguasa global dan polisi dunia di era modern, yaitu AS, Israel dan sekutunya.
Wallahu’alam bis-Shawab. Wassalamualaikum Wr. Wb.
(SCC/Iman Santoso/hdn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17182/penjajahan-al-istikhraab/#ixzz1gKnQDRuS

PKS MENGGONCANG STADION FUTSAL CENTRE PARK
















Jalannya pertandingan futsal antar DPC se Batam dalam rangka PKS 1 Day Futsal Competision di stadion futsal Centre Park Simpang Kara Batam Centre, 11 Des 2011(Tri Danar )


DPD pks kota Batam, dalam rangka meningkatkan ukhuwah antar kader se Batam DPD PKS kota Batam menyelenggarakan Ajang Kompetisi Bergengsi Futsal dengan tema PKS 1 Day Futsal kompetisi. Ajang kompetisi ini di ikuti oleh 13 tim dari seluruh DPC se Batam. Ajang kompetisi ini yang  memperebutkan piala bergilir ini berlangsung  seru dari pukul 07.00 hingga pukul 14.00.
Kompetisi ini berakhir dengan kemenangan tim DPC Sei Beduk sebagai juara pertama dan strikernya meraih gelar pencetak gol terbanyak. Kemudian disusul dengan tim DPC Nongsa sebagai juara II, tim DPC Batu Aji sebagai juara III dan tim Bengkong sebagai juara Harapan I. harapan kedepan dari para peserta adalah semoga ajang semacam ini akan terus terbentuk dan menjadi rutinitas riyadhoh kita.
Dalam ajang ini terbukti sudah bahwa kader PKS bukanlah orang yang hanya bisa khotbah di masjid, demo dan bicara politik saja, tetapi mereka juga menjaga kesehatan jasmani mereka sehingga mempunyai stamina tubuh yang hebat. Ini terbukti dari serunya pertandingan ini berlangsung dan dari gemuruh supporter yang menyemangati tim mereka. Semoga semangat para kader dalam ajang kompetisi ini juga memicu semangat mereka di dalam jalan dakwah.  Allahu Akbar!!!!!!!!! (tri danar, 11/12/11)

Jumat, 09 Desember 2011

Makna “Ilah” (Bagian ke-2, Selesai)




dakwatuna.com - Al-ilah dengan ma’rifat yaitu sembahan yang sejati hanyalah hak Allah saja, tidak boleh diberikan kepada selainNya. Allah SWT berfirman,
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ ﴿١٦٣﴾
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)
Allah adalah ilah yang esa, tiada Ilah selain Dia, dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya yang teramat luas. Oleh karena itu ayat di atas dilanjutkan dengan penjabaran mengenai contoh kemurahan dan kasih sayang-Nya:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ﴿١٦٤﴾
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah: 164)
Tanda-tanda kebesaran Allah SWT di atas tidak disadari oleh kebanyakan manusia, kecuali mereka yang memikirkannya.
Dalam menjadikan Allah sebagai Al-ilah terkandung empat pengertian yaitu al marghub, al mahbub, al matbu’ dan al marhub.
a. Al-Marghub yaitu Dzat yang senantiasa diharapkan. Karena Allah selalu memberikan kasih sayangNya dan di tangan-Nyalah segala kebaikan. Sebagaimana dalam firman-Nya,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ﴿١٨٦﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 180)
Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴿٦٠﴾
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.” (QS. Al-Ghaafir: 60)
Oleh karena itu hanya Allah yang diharap, karena Ia Maha Memberi dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Seperti dalam kisah Nabi Zakaria AS dan istrinya, ketika itu mereka sudah lama tidak dikaruniai anak. Lalu Nabi Zakaria AS berdoa kepada Allah SWT, dan Allah mengabulkan doanya. Kisah ini terekam dalam Al-Qur’an,
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ ﴿٨٩﴾ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ ﴿٩٠﴾
“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.” Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiyaa’: 90).
b. Al-Mahbub, Dzat yang amat sangat dicintai karena Dia yang berhak dipuja dan dipuji. Dia telah memberikan perlindungan, rahmat dan kasih sayang yang berlimpah ruah kepada hamba-hambanya. Oleh karena itu Allah adalah kecintaan orang yang beriman dengan kecintaan yang amat sangat, sebagaimana dalam firman-Nya,
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ
“… Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah …” (QS. Al-Baqarah: 165)
Sehingga ketika disebut nama Allah, maka gemetarlah hati mereka.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfaal: 2)
Oleh karena itu orang-orang beriman senantiasa mencintai Allah SWT di atas segala kecintaan. Hal ini tersirat dalam ayat Al-Qur’an,
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ﴿٢٤﴾
“Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)
c. Al-Matbu’, yang selalu diikuti atau ditaati. Semua perintahNya siap dilaksanakan dengan segala kemampuan, sedangkan semua laranganNya akan selalu dijauhi. Sebagaimana dalam firman-Nya,
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ
“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah….” (QS. Adz-Dzaariyat: 50)
Selalu mengikuti hidayah atau bimbinganNya dengan tanpa pertimbangan. Allah saja yang sesuai diikuti secara mutlak, dicari dan dikejar keridhaanNya. Nabi Ibrahim AS teladan kita mencontohkan hal ini, dia menuju Allah SWT untuk memperoleh bimbingan dan hidayahNya untuk diikuti. Sebagaimana yang terekam dalam ayat Al-Qur’an berikut ini,
وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ ﴿٩٩﴾
“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99)
d. Al-Marhub, yaitu sesuatu yang sangat ditakuti. Hanya Allah saja yang berhak ditakuti secara syar’i. Takut terhadap kemarahanNya, takut terhadap siksaNya, dan takut terhadap hal-hal yang akan membawa kemarahanNya.
Dalam catatan sejarah, kaum Bani Israil diperintahkan Allah SWT untuk hanya takut kepada-Nya,
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ﴿٤٠﴾
“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)
Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirman bahwa hanya Allah sajalah yang berhak ditakuti oleh orang-orang beriman ketimbang takut kepada orang-orang yang merusak sumpah dan orang-orang yang memerangi,
أَلَا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَّكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُم بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ أَتَخْشَوْنَهُمْ ۚ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَوْهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿١٣﴾
“Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 13)
Oleh karena itu para dai adalah orang-orang yang tidak takut kepada seorang pun. Rintangan dan tantangan apa pun yang mereka hadapi, mereka tidak takut, karena mereka hanya takut kepada Allah SWT. Dan rasa takut ini bukan membuat mereka lari, tetapi justru membuatnya selalu mendekatkan diri kepada Allah dan menjadikan-Nya sebagai pelindung atas segala rintangan dan tantangan yang dihadapinya, sebagaimana dalam firman-Nya,
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا ﴿٣٩﴾
“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (QS. Al-Ahzaab: 39)
4. Al-Ma’bud
Al-ma’bud merupakan sesuatu yang disembah secara mutlak. Karena Allah adalah satu-satunya Al-Ilah, tiada syarikat kepadaNya, maka Dia adalah satu-satunya yang disembah dan diabdi oleh seluruh kekuatan yang ada pada manusia.
Oleh karena itu tidak boleh ada pencampur-adukan dalam hal agama, apalagi aqidah, sebagaimana dalam firman-Nya,
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾
“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.” (QS. Al-Kaafiruun: 1-6)
Dan pada setiap umat, Allah SWT selalu mengutus rasul-Nya. Mereka diutus dengan risalah pengabdian pada Allah saja dan menjauhi segala yang diabdi selain Allah.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, …” (QS. An-Nahl: 36)
Dalam ayat lain Allah SWT memerintahkan seluruh manusia agar mengabdi hanya kepadaNya saja dengan tidak mengambil selain Allah sebagai tandingan-tandingan.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿٢١﴾
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa, …” (QS. Al-Baqarah: 21)
Pengakuan Allah SWT sebagai al-Ma’bud dibuktikan dengan penerimaan Allah sebagai pemilik segala loyalitas, pemilik ketaatan dan pemilik hukum. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Pemilik kepada segala loyalitas, perwalian atau pemegang otoritas atas seluruh makhluk termasuk dirinya. Dengan demikian loyalitas mukminin hanya diberikan kepada Allah dengan kesadaran, dan loyalitas yang diberikan pada selain Nya adalah kemusyrikan. Ayat berikut menjelaskan mengenai pernyataan seorang mukmin, bahwa wali (pemimpin) nya hanya Allah saja,
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ﴿١٩٦﴾
“Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS. Al-A’raaf: 196)
Jika manusia berwalikan kepada Allah, maka Allah akan mengeluarkan dirinya dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…” (QS. Al-Baqarah: 257)
b. Pemilik tunggal hak untuk ditaati oleh seluruh makhluk di alam semesta. Seorang mukmin meyakini bahwa ketaatan pada hakikatnya untuk Allah saja. Dengan kata lain, hak menciptakan dan hak memerintah hanyalah milik Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴿٥٤﴾
“… Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raaf: 54)
Dengan demikian seorang mukmin menyadari sepenuhnya bahwa mentaati mereka yang mendurhakai Allah adalah kedurhakaan terhadap Allah. Dalam hadits disebutkan bahwa mukmin hanya akan taat pada sesuatu yang diizinkan Allah, Rasul dan ulil amri. Dan mukmin tidaklah akan mentaati perintah maksiat kepada Allah.
c. Pemilik tunggal kekuasaan di alam semesta. Dialah yang menciptakan dan berhak menentukan aturan bagi seluruh ciptaanNya, sebagaimana dalam surat Al-A’raaf ayat 54 di atas bahwa hak menciptakan dan hak memerintah hanyalah milik Allah.
Dengan demikian, menentukan hukum dan undang-undang hanyalah hak Allah, sebagaimana tertuang dalam ayat berikut,
مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴿٤٠﴾
“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.” (QS. Yusuf: 40)
Hanya hukum dan undang-undangNya saja yang adil dan Allah mewajibkan manusia melaksanakan hukum-hukumNya.
سُورَةٌ أَنزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا
“(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya…” (QS. An-Nuur: 1)
Sehingga orang-orang beriman menerima Allah sebagai pemerintah dan kerajaan tunggal di alam semesta dan menolak kerajaan manusia. Sedangkan mereka yang menolak aturan atau hukum Allah adalah kafir, zhalim dan fasik, sebagaimana sejarah kaum-kaum terdahulu yang direkam dalam Al-Qur’an berikut ini,
إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِن كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ﴿٤٤﴾وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنفَ بِالْأَنفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴿٤٥﴾وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِم بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ﴿٤٦﴾وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴿٤٧﴾
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim. Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putra Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maaidah: 44-47).
Secara ringkas, materi “Makna Ilah” bagian ke-1 dan bagian ke-2 dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

Rasmul Bayan materi tarbiyah "Makna Ilah"
– Selesai
(hdn)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17176/makna-ilah-bagian-ke-2-selesai/#ixzz1g38mpwQR

Kamis, 08 Desember 2011

Makna “Ilah” (Bagian ke-1)

Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah
Kirim Print
email
Kalimat Laa ilaha illallah tidak mungkin kita pahami kecuali dengan memahami terlebih dahulu makna ilah yang berasal dari ‘aliha’ yang memiliki berbagai macam pengertian. Dengan memahaminya kita akan mengetahui motif-motif manusia mengilahkan sesuatu.
1. Aliha
Ada empat makna utama dari aliha yaitu sakana ilahi, istijaara bihi, asy syauqu ilaihi dan wull’a bihi. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Sakana ilaihi (mereka tenteram kepadanya), yaitu ketika ilah tersebut diingat-ingat olehnya, ia merasa senang dan manakala mendengar namanya disebut atau dipuji orang ia merasa tenteram.
Penggunaan kata Ilah dengan makna ini tersirat di dalam Al-Qur’an, di antaranya pada ayat berikut ini:
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ﴿١٣٨﴾
“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”.” (QS. Al-A’raaf: 138)
Ayat di atas menggambarkan kisah Bani Israel yang bodoh karena menghendaki adanya ilah yang dapat menenteramkan hati mereka.
b. Istijaara bihi (merasa dilindungi olehnya), karena ilah tersebut dianggap memiliki kekuatan ghaib yang mampu menolong dirinya dari kesulitan hidup.
Penggunaan kata Ilah dengan makna ini bisa kita simak dalam Al-Qur’an antara lain pada ayat berikut ini:
وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنصَرُونَ﴿٧٤﴾
“Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.” (QS. Yaasiin: 74)
Ayat di atas menggambarkan orang-orang musyrik yang mengambil pertolongan dari selain Allah, padahal berhala-berhala tersebut tidak dapat memberikan pertolongan (lihat QS. Al-A’raaf ayat 197).
c. Assyauqu ilaihi (merasa selalu rindu kepadanya), ada keinginan selalu bertemu dengannya, baik terus-menerus atau tidak. Ada kegembiraan apabila bertemu dengannya.
قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ﴿٧١﴾
“Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.” (QS. Asy-Syu’araa’: 71)
Ayat di atas menggambarkan para penyembah berhala yang sangat tekun melakukan pengabdian kepada berhala karena selalu rindu kepadanya.
d. Wull’a bihi (merasa cinta dan cenderung kepadanya). Rasa rindu yang menguasai diri menjadikannya mencintai ilah tersebut, walau bagaimanapun keadaannya. Ia selalu beranggapan bahwa pujaannya memiliki kelayakan untuk dicintai sepenuh hati.
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah…” (QS. Al-Baqarah: 165)
Ayat di atas menggambarkan adanya sebagian manusia (orang-orang musyrik) yang menyembah tandingan-tandingan (أَندَادًا) selain Allah dan mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, karena mereka sangat cenderung atau dikuasai olehnya.
2. Abadahu
Selanjutnya, Aliha bermakna abaduhu yang berarti mengabdi/menyembahnya. Karena empat perasaan di atas demikian mendalam dalam hatinya, maka dia rela dengan penuh kesadaran untuk menghambakan diri kepada ilah (sembahan) tersebut. Hal ini sebagaimana perkataan orang Arab di mana aliha bermakna abadahu, seperti dalam kalimat: “aliha rajulu ya-lahu” yang artinya “lelaki itu menghambakan diri pada ilahnya”.
Dalam hal ini ada tiga sikap yang mereka berikan terhadap ilahnya yaitu kamalul mahabah, kamalut tadzalul, dan kamalul khudu’.
a. Kamalul mahabbah (dia amat sangat mencintainya), sehingga semua akibat cinta siap dilaksanakannya. Maka dia pun siap berkorban memberi loyalitas, taat dan patuh dan sebagainya.
Orang kafir yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai ilahnya, demikian senangnya apabila mendengar nama kecintaannya, serta tidak suka apabila nama Allah disebut.
وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ﴿٤٥﴾
“Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS. Az-Zumar: 45)
Sedangkan kecintaan seseorang terhadap sesuatu tanpa dasar yang benar, dapat membentuk sebuah penghambaan tanpa disadarinya. Rasulullah SAW bersabda,
“Celakalah hamba dinar (uang emas), celakalah hamba dirham (uang perak), celakalah hamba pakaian (mode). Kalau diberi maka ia ridha, sedangkan apabila tidak diberi maka ia akan kesal.” (HR. Bukhari)
Hal ini disebabkan kecintaan yang amat sangat terhadap barang-barang tersebut.
b. Kamalut tadzulul (dia amat sangat merendahkan diri di hadapan ilahnya). Sehingga menganggap dirinya sendiri tidak berharga, sedia bersikap rendah serendah-rendahnya untuk pujaannya itu.
Dalam hal ini, orang-orang kafir sangat menghormati berhala-berhalanya sembahannya. Sebagaimana dalam firman Allah SWT,
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴿٢٣﴾
“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”.” (QS. Nuuh: 23)
Dalam catatan sejarah, orang-orang musyrik marah karena berhala-berhalanya dipermalukan oleh Nabi Ibrahim AS, sehingga mereka menghukum Nabiyullah untuk membela berhala-berhala. Reaksi kemarahan tersebut menandakan bahwa mereka begitu rendah diri dan hormat terhadap berhala-berhalanya. Peristiwa ini terekam dalam Al-Qur’an:
قَالُوا مَن فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ﴿٥٩﴾
“Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim”.” (QS. Al-Anbiyaa’: 59)
c. Kamalul khudu’ (dia amat sangat tunduk, patuh), sehingga akan selalu mendengar dan taat tanpa reserve, serta melaksanakan perintah-perintah yang menurutnya bersumber dari sang ilah.
Dalam hal ini, orang-orang kafir pada hakikatnya mengabdi kepada syaithan yang telah memperdaya mereka. Hal ini tersirat dalam perintah Allah SWT,
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? …” (QS. Yaasiin: 60)
Begitu mengabdinya mereka kepada syaithan, mereka sangat patuh sehingga bersedia membunuh anak-anaknya untuk mengikuti program ilah-ilah sembahannya.
وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ ۖ
“Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya.” (QS. Al-An’aam: 137)
– Bersambung
(hdn)

Minggu, 04 Desember 2011

Agar Futur Tidak Menghantui

Islamedia - “Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146).

Saudaraku…

Pengikut yang bertaqwa adalah mereka yang tidak menjadi lemah karena bencana, ujian, ketidakberuntungan yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh Allah dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar.

Ada fenomena kelesuan atau futur dalam dimensi aqidah dan umumnya terjadi karena pergeseran orientasi hidup, lebih berorientasi pada materi duniawi an sich. Dan ada juga dalam dimensi ibadah dengan lemahnya disiplin -indhibath- terhadap amaliyah ubudiyah yaumiyah (harian). Adapun dalam dimensi fikriyah terlihat dengan lemahnya semangat meningkatkan ilmu. Di sisi lain pergeseran adab islami menyelimuti akhlaq mereka, belum lagi rasa jenuh dalam mengikuti aktivitas tarbawiyah atau pembinaan keislaman dan hubungan yang terlalu longgar antar lawan jenis.

Dalam hidup akan banyak ditemui bermacam jalan. Kadang datar, kadang menurun, kadang pula meninggi. Begitu pula dalam perjalanan dakwah. Ada saatnya para muharrik (orang yang bergerak) menemui jalan yang lurus dan mudah. Namun tidak jarang menjumpai onak dan duri. Hal demikian juga terjadi pada muharrik. Suatu saat ia memiliki kondisi iman yang tinggi. Di saat lain, iapun dapat mengalami degradasi iman. Tabiat manusia memang menggariskan demikian.

Dalam kondisi iman yang turun ini, para muharrik kadang terkena satu penyakit yang membahayakan kelangsungan gerang langkah dakwah. Yaitu penyakit futur atau kelesuan.

Saudaraku…

Futur berarti putusnya kegiatan setelah kontinyu bergerak atau diam setelah bergerak, atau malas, lamban dan santai setelah sungguh-sungguh.

Terjadinya futur bagi muharrik, sebenarnya merupakan hal yang wajar. Asal saja tidak mengakibatkan terlepasnya muharrik dari roda dakwah. Hanya malaikat yang mampu kontinyu mengabdi kepada Allah dengan kualitas terbaik.

Firman Allah, “dan kepunyaan-Nyalah segala apa yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada hentinya.” (Al-Anbiya: 19-20)

Karena itu Rasulallah sering berdoa:

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku akhirnya. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amalku keridhaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik hariku saat bertemu dengan-Mu.”

Penyebab Futur

Walaupun futur merupakan hal yang mungkin terjadi bagi muharrik, ada beberapa penyebab yang dapat menyegerakan timbulnya:

Pertama, berlebihan dalam din (Bersikap keras dan berlebihan dalam beragama)

Berlebihan pada suatu jenis amal akan berdampak kepada terabaikannya kewajiban-kewajiban lainnya. Dan sikap yang dituntut pada kita dalam beramal adalah washathiyyah atau sedang dan tengah-tengah agar tidak terperangkap dalam ifrath dan tafrith (mengabaikan kewajiban yang lain).

Dalam hadits yang lain Rasul bersabda:

“Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (H.R. Muslim)

Karena itu, amal yang paling di sukai Allah swt. adalah yang sedikit dan kontinyu.

Kedua, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. (Berlebihan dan melampaui batas dalam mengkonsumsi hal-hal yang diperbolehkan)

Mubah adalah sesuatu yang dibolehkan. Namun para sahabat sangat menjaganya. Mereka lebih memilih untuk menjauhkan diri dari hal yang mubah karena takut terjatuh pada yang haram. Berlebihan dalam makanan menyebabkan seseorang menjadi gemuk. Kegemukan akan memberatkan badan. Sehingga orang menjadi malas. Malas membuat seseorang menjadi santai. Dan santai mengakibatkan kemunduran. Karena itu secara keseluruhan hal ini bisa menghalangi dalam amal dakwah.

Ketiga, memisahkan diri dari kebersamaan atau jamaah (Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari organisasi atau berjamaah)

Jauhnya seseorang dari berjamaah membuatnya mudah didekati syaitan. Rasul bersabda: “Setan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (H.R. Ahmad)

Jika setan telah memasuki hatinya, maka tak sungkan hatinya akan melahirkan zhan (prasangka) yang tidak pada tempatnya kepada organisasi atau jamaah. Jika berlanjut, hal ini menyebabkan hilangnya sikap tsiqah (kepercayaan) kepada organisasi atau jamaah.

Dengan berjamaah, seseorang akan selalu mendapatkan adanya kegiatan yang selalu baru. Ini terjadi karena jamaah merupakan kumpulan pribadi, yang masing-masing memiliki gagasan dan ide baru. Sedang tanpa jamaah seseorang dapat terperosok kepada kebosanan yang terjadi akibat kerutinan. Karena itu imam Ali berkata: “Sekeruh-keruh hidup berjamaah, lebih baik dari bergemingnya hidup sendiri.”

Keempat, sedikit mengingat akhirat (Lemah dalam mengingat kematian dan kehidupan akhirat)

Saudaraku…

Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingat akan adanya hisab atas setiap amalnya. Kebalikannya, sedikit mengingat kehidupan akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal. Ini disebabkan tidak adanya pemacu amal berupa keinginan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah pada hari yaumul hisab nanti. Karena itu Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Kelima, melalaikan amalan siang dan malam (Tidak memiliki komitmen yang baik dalam mengamalkan aktivitas ’ubudiyah harian)
Pelaksanaan ibadah secara tekun, membuat seseorang selalu ada dalam perlindungan Allah. Selalu terjaga komunikasi sambung rasa antara ia dengan Allah swt. Ini membuatnya mempersiapkan kondisi ruhiyah atau spiritual yang baik sebagai dasar untuk bergerak dakwah. Namun sebaliknya, kelalaian untuk melaksanakan amalan, berupa rangkaian ibadah baik yang wajib maupun sunnah, dapat membuat seseorang terjerumus untuk sedikit demi sedikit merenggangkan hubungannya dengan Allah. jika ini terjadi, maka sulit baginya menjaga kondisi ruhiyah dalam keadaan taat kepada Allah. kadang hal ini juga berkaitan dengan kemampuan untuk berbicara kepada hati. Dakwah yang benar, selalu memulainya dengan memanggil hati manusia, sementara sedikitnya pelaksanaan ibadah membuatnya sedikit memiliki cahaya.

Allah berfirman: “Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 40)

Keenam, masuknya barang haram ke dalam perut (Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram)

Ketujuh, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan. (Tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dakwah)

Setiap perjuangan selalu menghadapi tantangan. Haq dan bathil selalu berusaha untuk memperbesar pengaruhnya masing-masing. Akan selalu ada orang-orang Pendukung Islam. Di lain pihak akan selalu tumbuh orang-orang pendukung hawa nafsu. Dan dalam waktu yang Allah kehendaki akan bertemu dalam suatu “fitnah”. Dalam bahasa Arab, kata “fitnah” berasal dari kata yang digunakan untuk menggambarkan proses penyaringan emas dari batu-batu lainnya. Karena itu “fitnah” merupakan sunnatullah yang akan mengenai para pelaku dakwah. Dengan “fitnah” Allah juga menyaring siapa hamba yang masuk golongan shadiqin dan siapa yang kadzib (dusta). Dan jika fitnah itu datang, sementara ia tidak siap menerimanya, besar kemungkinan akan terjadi pengubahan orientasi dalam perjuangannya. Dan itu membuat futur. Allah Berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.” (Al-Ahqaf: 14)

Kedelapan, bersahabat dengan orang-orang yang lemah (Berteman dengan orang-orang yang buruk dan bersemangat rendah)

Kondisi lingkungan (biah) dapat menentukan kualitas seseorang. Teman yang baik akan melahirkan lingkungan yang baik. Akan tumbuh suasana ta’awun atau tolong-menolong dan saling menasihatkan. Sementara teman yang buruk dapat melunturkan hamasah (kemauan) yang semula telah menjadi tekad. Karena itu Rasulullah bersabda:

“Seseorang atas diri sahabatnya, hendaklah melihat salah seorang di antara kalian siapa ia berteman.” (H.R. Abu Daud)

Kesembilan, spontanitas dalam beramal (Tidak ada perencanaan yang baik dalam beramal, baik dalam skala individu atau fardi maupun komunitas atau jama’i)

Amal yang tidak terencana, yang tidak memiliki tujuan sasaran dan sarana yang jelas, tidak dapat melahirkan hasil yang diharapkan. Hanya akan timbul kepenatan dalam berdakwah, sementara hasil yang ditunggu tak kunjung datang. Karena itu setiap amal harus memiliki minhajiatul amal (sistematika kerja). Hal ini akan membuat ringan dan mudahnya suatu amal.

Kesepuluh, jatuh dalam kemaksiatan (Meremehkan dosa dan maksiat)

Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi, sulit diharapkan seorang juru dakwah mampu beramal untuk jamaahnya. Bahkan untuk menjaga diri sendiri pun sulit.


Cara Mengobati Kelesuan

Saudaraku…


Untuk mengobati penyakit futur ini, beberapa ulama memberikan beberapa resep.

Pertama, jauhi kemaksiatan

Kemaksiatan akan mendatangkan kemungkaran Allah. Dan pada akhirnya membawa kepada kesesatan. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa musibah oleh kemurkaan-Ku, maka binasalah ia.” (Thaha: 81)

Jauh dari kemaksiatan akan mendatangkan hidup yang akan lebih berkah. Dengan keberkahan ini orang dapat terhindar dari penyakit futur. Allah berfirman:

“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.” (Al-A’raf: 96)


Kedua, tekun mengamalkan amalan siang dan malam
Amalan siang dan malam dapat melindungi dan menjaga pelaku dakwah untuk selalu berhubungan dengan Allah swt. Hal ini dapat menjauhkannya dari perbuatan yang tidak mendapat restu dari Allah.

Allah berfirman:

“Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu, ialah orang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang (mengandung) keselamatan. Dan orang-orang yang melalui malam harinya dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqan: 63-64)

Ketiga, mengintai waktu-waktu yang baik
Dalam banyak hadits Rasulullah saw. banyak menginformasikan adanya waktu-waktu tertentu dimana Allah swt. lebih memperhatikan doa hamba-Nya. Sepertiga malam terakhir, hari Jum’at, antara dua khutbah, ba’da Ashar hari Jum’at, bulan Ramadhan, bulan Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram, rajab dll. Waktu-waktu itu memiliki keistimewaan yang dapat mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah.

Keempat, menjauhi hal-hal yang berlebihan.
Berlebihan dalam kebaikan bukan merupakan tindakan bijaksana. Apalagi berlebihan dalam keburukan. Allah memerintah manusia sesuai dengan kemampuannya.

Firman Allah:

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu!” (At-Taghabun: 6)

Islam adalah Din tawazun (keseimbangan). Disuruhnya pemeluknya memperhatikan akhirat, namun jangan melupakan kehidupan dunia. Seluruh anggota tubuh dan jiwa mempunyai haknya masing-masing yang harus ditunaikan. Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan (adil) dan pilihan. (Al-Baqarah: 143)

Kelima, melazimi Jamaah

“Berjamaah itu rahmat, Firqah (perpecahan) itu azab.” demikian sabda Rasulullah. Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Barangsiapa yang menghendaki tengahnya surga, hendaklah ia melazimi jamaah.”

Dengan jamaah seorang muharrik akan selalu berada dalam majelis dzikir dan pikir. Hal ini membuatnya selalu terikat dengan komitmennya semula. Juga jamaah dapat memberikan program dan kegiatan yang variatif. Sehingga terhindarlah ia dari kebosanan dan rutinitas.

Keenam, mengenal kendala yang akan menghadang
Saudaraku…

Pengetahuan pelaku dakwah dan pejuang akan tabiat jalan yang hendak dilalui serta rambu-rambu yang ada, akan membuatnya siap, minimal tidak gentar, untuk menjalani rintangan yang akan datang. Allah berfirman:

“Dan beberapa banyak Nabi yang berperang bersama mereka sebagian besar karena bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak pula lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

Ketujuh, teliti dan sistemik dalam kerja.

Dengan perencanaan yang baik, Pembagian tugas yang jelas, serta kesadaran akan tanggung jawab yang diemban, dapat membuat harakah menjadi harakatul muntijah (harakah yang berhasil). Perencanaan akan menyadarkan pejuang, bahwa jalan yang ditempuh amat panjang. Tujuan yang akan dicapai amat besar. Karena itu juga dibutuhkan waktu, amal dan percobaan yang besar. Jika ini semua telah dimengerti, insya Allah akan tercapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan.

Kedelapan, memilih teman yang shalih

Rasulullah bersabda:
“Seseorang tergantung pada sahabatnya, maka hendaklah ia melihat dengan siapa ia berteman.” (H.R. Abu Daud)

Kesembilan, menghibur diri dengan hal yang mubah

Bercengkerama dengan keluarga, mengambil secukupnya kegiatan rekreatif serta memberikan hak badan secara cukup mampu membuat diri menjadi segar kembali untuk melanjutkan amal yang sedang dikerjakan.

Kesepuluh, mengingat mati, surga dan neraka
Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Saudaraku…

Ketahuilah, bahwa futur menyebabkan jalan dakwah yang harus di tempuh menjadi lebih panjang, sebab tidak mendapatkan ma’iyatullah (kebersamaan dan pembelaan Allah) dan daya intilaq (lompatan) kita menjadi lebih berat, baik karena borosnya biaya dan rontoknya para pejuang dan penyeru dakwah. Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita, Amin. Wallahu a’lam bis shawab

Drs. H. Mahfudz Siddiq, M.Si

Dakwatuna