Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Bekerja Untuk Indonesia

Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Biduk Kebersamaan

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Kesungguhan Membangun Peradaban

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

Jumat, 13 Januari 2012

Apa yang Menghambat Kita untuk Berakhlaq dengan Baik?


10/1/2012 | 15 Shafar 1433 H | Hits: 401


Ilustrasi (4antum.wordpress.com)
dakwatuna.com - Di sela-sela gerombolan manusia yang sudah hilang nilai-nilai moralnya, sedikit sekali orang-orang yang masih menjaga akhlaqnya. Dengan kondisi seperti itu, sangat mencolok keberadaan orang tersebut. Karena sesungguhnya seseorang yang memiliki akhlaq dan budi pekerti yang baik, selalu membuat orang lain nyaman berada di dekatnya. Sehingga orang-orang akan mudah mengenalinya dan ini akan menjadi karakteristik yang membedakan dia dengan yang lain.
Akhlaq yang baik itu bisa timbul dikarenakan seseorang itu selalu bersikap baik yang berlandaskan keyakinan bahwa Allah akan melihat apa-apa yang dikerjakan. Setiap perilaku yang ia perbuat selalu hanya mengharap ridha dari Allah dan bukan karena pujian manusia semata. Ia yakin akan balasan yang akan diberikan oleh Allah SWT sehingga ia akan menunjukkan perilaku terbaiknya dalam berinteraksi dengan sesame manusia. Perilaku yang dia lakukan tulus, tanpa ada skenario atau perilaku yang dibuat-buat. Firman Allah SWT : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (Q.S. Al Zalzalah : 7). Hal inilah yang menciptakan akhlaq yang baik, karena keyakinan akan balasan kepada Allah terhadap setiap tingkah laku dan perbuatan baik yang dilakukan buat manusia di sekitarnya.
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Allah SWT. Coba kita bandingkan diri kita ini dengan ciptaan-ciptaan Allah yang lain, betapa sempurnanya diri kita. Kita memiliki panca indra yang tidak dimiliki oleh tumbuhan. Kita memiliki akal yang tidak dimiliki oleh hewan. Kita memiliki hati, perasaan dan hawa nafsu yang tidak dimiliki malaikat. Terus apa yang membuat kita susah untuk bersyukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan? Lalu apa juga yang membuat akhlaq ini lebih buruk dari pada yang dimiliki oleh hewan? Lalu apa yang menghambat kita untuk berakhlaq seperti halnya Rasulullah Muhammad SAW?  Ternyata kebanyakan manusia menyalahgunakan kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT kepada dirinya, hal ini juga karena kurangnya rasa syukur pada diri mereka dan rasa sombong yang malahan mereka banggakan.
Saat ini sudah terjadi pergeseran standar dari akhlaq yang baik itu seperti apa. Orang-orang kebingungan untuk mencari contoh atau petunjuk pembentukan akhlaq yang baik. Sebenarnya Allah SWT telah memberikan kita petunjuk praktis tentang bagaimana membentuk akhlaq yang baik, seperti apa petunjuk praktis tersebut? “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al ahzab : 21). Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia terbaik yang diciptakan Allah dan merupakan panutan bagi kita semua. Apa yang beliau perbuat hendaklah menjadi contoh apa yang kita perbuat sekarang. Sehingga perbuatan kita bisa membentuk akhlaq kita yang tujuannya adalah terbentuknya Akhlakul Karimah dalam diri ini. Jadi akhlaq yang baik itu bisa kita dapatkan dengan mencontoh dan menerapkan akhlaq Rasulullah.
Selanjutnya, ketika kita berakhlaq dan berbuat baik terhadap sesama, sesungguhnya tidak ada kerugian yang kita dapatkan. Malah dengan berakhlaq dengan baik dan benar itu akan mengantarkan kita pada kesuksesan bermasyarakat di dunia dan mendapatkan nikmat akhirat. Masyarakat di lingkungan akan merespon  kita dengan baik serta akan memudahkan kita berkomunikasi serta berdakwah di masyarakat. Dan juga nikmat-nikmat yang Allah janjikan itu menunggu kita di akhirat sana. Allah pun seringkali menjelaskan di dalam Al Qur’an tentang manfaat-manfaat berbuat baik.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. (Q.S. Al Baqarah : 25)
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.  Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya (Q.S. Yunus : 26)
Maka apalagi yang menjadi penghambat kita untuk berakhlaq dengan baik? Sudah jelas contoh dan cara untuk membentuknya. Sudah sangat jelas balasan dari Allah yang akan kita dapatkan. Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku yang dirahmati oleh Allah SWT, mari kita mulai dari hal yang kecil, yaitu diri kita. Kita biasakan diri kita untuk berakhlaq dengan baik. Lalu kita ajak lingkungan di sekitar kita. Sehingga nanti pada akhirnya semua manusia di dunia ini akan terbiasa untuk berakhlaq dengan baik dan benar, insya Allah!
Wallahu’alam bishshowab.

Rabu, 11 Januari 2012

Ada Sekolah di Rumahku

Senin, 09 Januari 2012

Pelantikan DPC & Ranting PKS se Kota Batam

BPH & Ka DPRa DPC PKS Bengkong yang telah dilantik ( Ahad, 8 / 1/2012 /tdd)
Mari Bersatu Wujudkan PKS Tiga Besar
Slogan yang terpampang besar pada pelantikan para kader dakwah PKS yang dilaksanakan di hotel Harmony one pagi tadi . (Ahad, 8 /01/12)

Acara yang dibuka oleh ketua DPD kota batam, Taufik Hermawan, ST juga di hadiri oleh perwakilan dari Walikota Batam, Pebrilian, SE, MSi dan perwakilan dari Partai Hanura. Dan pada sesi setelah pelantikan Ketua DPW Kepri, Ust Abdul Rahman, Lc menyampaikan pesan mengenai tantangan yang akan di hadapi PKS tahun 2014 nanti.
tantangan itu berasal dari internal dan eksternal.
Tantangan dari internal yaitu:
1.kaderisasi, yaitu kemampuan kita menjaga "vitalitas" para kader, yang hanya bisa kita lakukan dengan Tarbiah sepanjang Hayat.
2. Pemetaan Kader, yaitu pemetaan berdasarkan kualitas kecenderungan dan atau keahlian kader  untuk penempatan posisi mereka dalam medan dakwah ini.
3. Optimasi Kader, yaitu mengoptimalkan peran mereka berdasarkan kecenderungan mereka tadi.
4. Sense of Belonging yang mutlak harus di miliki dengan motivasiagar menjadi hamba Allah yang masuk dalam gerbong gerakan penyebab kejayaan Islam di muka bumi.
5. Seniorits, kesenioran tidaklah negatif bila dijadikan tempat untuk sarana kita konsultasi, tempat kader muda mendapatkan contoh Pribadi PKS. tetapi kesenioran akan menjadi negatif bila menjadikan kader senior tersebut merasa berjasa, harus didahulukan, harus dihormati dll.
Tantangan dari eksternal yaitu:
1. Tantangan dalam melaksanakan tugas kepemerintahan
2. Robthul Aam yang belum optimal
3. Rekruitment yang lemah
4. Kurangnya penguatan tokoh
Di akhir pemaparannya sebagai penggugah semangat Ust abdurahman mengutip nasehat dari Imam Syafii: "Bergeraklah kalian seperti air,karena jika air bergerak ia akan bersih dan membersihkan dan jika ia diam, ia akan menggenang dan menjadi sumber penyakit.

Semoga harapan dan cita-cita dakwah kita tercapai
ALLAHU AKBAR !!!!!!!!!!!!!

 

Rabu, 28 Desember 2011

AKSI KEMANUSIAAN UNTUK PALESTINA

HADIRI DAN IKUTI
"Aksi Kemanusiaan" untuk Palestina yang lebih baik

Waktu : 1 Januari 2012
             08.00 - 12.00 WIB
tempat : Indoor Sport Hall Tumenggung Abdul Jamal, Muka Kuning
Siapkan infak terbaik anda dan jadilah salah satu dari sekian ribu warga batam yang peduli Palestina.
 ALLAHU AKBAR!!!!!!!!!

Selasa, 20 Desember 2011

HORMATI IBUMU

Bengkong VS Batu aji

Aku Belum Mengetahui Arti “Diriku Seorang Hamba!”

Tazkiyatun Nufus

8/12/2011 | 13 Muharram 1433 H | Hits: 2.030
Oleh: H. Muhammad Widus Sempo, MA
Kirim Print
Ilustrasi (anwardjaelani.com)Semua sepakat bahwa moral bangsa adalah modal pembangunan. Jika moral bangsa telah rusak, maka kehancuran di ambang pintu. Yang bermoral dari mereka adalah yang tidak melupakan nilai-nilai kehambaan yang senantiasa memberikan nuansa-nuansa kehidupan. Di dalam kehambaan tersimpan aset kehidupan yang luar biasa, yang jika diaplikasikan secara benar dan tepat, ia mampu dengan sendirinya mendobrak nilai-nilai negatif, seperti: kriminalitas, ketimpangan sosial dan dekadensi moral.
Kita semua hamba, tetapi boleh jadi ada di antara kita yang belum memahami makna kehambaan itu sendiri. Olehnya itu, mari bersama-sama menelaah fitrah ini sebagaimana berikut!
Kehambaan yang hidup kehambaan yang senantiasa mendorong manusia untuk beribadah dan ikhlas beramal. Yang punya kehambaan seperti ini adalah mereka yang meyakini bahwa diri mereka tidak tercipta kecuali untuk beribadah, mengulurkan tangan kepada mereka yang dililit masalah-masalah sosial, mengedepankan kepentingan umat dari kepentingan pribadi dan kelompok, dan mengetuk pintu-pintu kebaikan demi mewujudkan kesejahteraan lingkungan dan umat.
Syekh Ibn Asyûr berkata:
“(إٍيَّاكَ نَعْبُدُ) menyimpulkan makna-makna agama dan syariat, dan (إِيَّاكَ نّسْتَعِيْنُ) menyimpulkan makna keikhlasan terhadap Allah dalam setiap pekerjaan. Ini telah ditegaskan sebelumnya oleh Syekh Izzuddin bin Abdi as-Salâm di salah satu karyanya (Hillu ar-Rumûz wa Mafâtîhul Kunûz), beliau berkata: “titian ke Allah SWT punya dua bentuk: amalan lahiriah (fisik) dan amalan batiniah (hati). Titian lahiriah itu adalah syariat dan batiniahnya adalah hakikat, dan yang dimaksud dengan syariat dan hakikat adalah menegakkan kehambaan dengan benar. Syariat dan Hakikat tersimpul dalam (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ). Olehnya itu (إٍيَّاكَ نَعْبُدُ) membiaskan syariat dan (إِيَّاكَ نّسْتَعِيْنُ) menyinarkan hakikat.””[[1]]
Kehambaan yang hidup kehambaan yang memahami bahwa setiap pekerjaan yang sedang ditekuni punya potensi ibadah. Akan tetapi, tidak semua ibadah itu menampakkan kehambaan. Di sana ada ibadah, meski hidup, tetapi pada hakikatnya ia mati tidak memberikan apa-apa kecuali kesengsaraan belaka, seperti: menyembah selain dari Allah, dan menyekutukan-Nya dengan sembahan lain.
Di lain sisi, ada amal yang cukup menggiurkan, tetapi pada hakikatnya ia mati tidak membuahkan hasil kecuali sementara waktu saja, kenikmatannya terbatas oleh waktu dan tempat, cepat pudar dan tidak dapat dipetik di akhirat, seperti: merampas hak orang lain dengan paksa, tipuan, mencuri, menyogok dan melakukan segala tindak kriminal.
Kehambaan seperti ini meski hidup, tapi tidak dapat memberi sinar. Meskipun dia memberikan sinar, tapi yang dipancarkan semu, seperti fatamorgana di siang hari.
Kehambaan yang hidup lestari kehambaan yang tidak membedakan satu bentuk amal baik dari yang lain, kehambaan yang senantiasa menganjurkan seseorang untuk beramal, meski amal itu sendiri kelihatan kecil. Olehnya itu, nilai amal tidak terlihat dari kecil dan besarnya, tetapi sejauh mana amal itu ditekuni dengan penuh dedikasi tinggi dan keikhlasan.
Seorang pedagang yang tidak jemu menekuni profesinya, mensyukuri setiap keuntungan meski kadang tidak memenuhi target pencapaian, dan mengumpulkan dengan penuh kesabaran laba penjualan dari hari ke hari, pedagang seperti ini telah menghidupkan beberapa nilai kehambaan dalam satu profesi. Tentunya, yang terlihat di sisi Allah dari bentuk-bentuk perdagangan adalah perdagangan semacam ini. Kiaskanlah kepada contoh ini cara membumikan nilai-nilai kehambaan di pelbagai profesi.
Imam al-Qusyairi berkata:
“Hakikat kehambaan adalah menegakkan cinta amal dan menjaga kelestariannya.”[[2]]
Kehambaan yang membumi kehambaan yang tahu batas. Hamba yang tahu batas kemampuannya tidak mengklaim hasil usaha bersama sebagai hasil usaha sendiri, tidak menunjukkan kepintaran di tengah orang-orang pintar, tidak mengelabui orang awam hanya karena mereka sederhana dan lugu, tidak menciptakan pencitraan diri di balik kebusukan moral dan jati diri. Agama itu punya batas, jangan pernah ditambah dan dikurangi!
Imam al-Qusyairi kembali berkata:
“Hakikat kehambaan dengan mengetahui batas dan tidak melampauinya, tidak menambah dan tidak pula menguranginya. Barang siapa yang tidak melampaui batas dalam menegakkan hukum-hukum Allah, maka dengan sendirinya Allah akan menepati janji-Nya terhadapnya.”[[3]]
Kehambaan yang menyinarkan makna-makna kemanusiaan adalah kehambaan yang tahu rendah diri, tidak sombong dan angkuh. Hamba-hamba semacam ini senantiasa tahu menempatkan diri, tidak malu berteman dan bersahabat dengan orang-orang fakir; jalan dan makan bersama dengan mereka. Pribadi seperti ini adalah pribadi yang tidak suka pujian dan sanjungan yang berlebihan, sosok yang cinta kesederhanaan dari kebersahajaan yang dibangun atas kecongkakan dan kesombongan.
Ini telah dicontohkan dalam sabda Rasul Saw berikut ini:
(آكُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ، وأَجْلِسُ كَمَا يَجْلِسُ الْعَبْدُ).
“saya makan seperti hamba lain sedang makan, dan saya duduk seperti duduknya hamba lain.”[[4]]
Di hadits lain, Rasul Saw diberitakan makan berjamaah dengan Ahlu as-Suffah. [[5]]
Dari Abu Dzar RA:
(كُنْتُ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ، فَكُنَّا إِذَا أَمْسَيْنَا حَضَرْنَا بَابَ رَسُولِ اللهِ e فَيَأْمُرُ كُلَّ رَجُلٍ فَيَنْصَرِفُ بِرَجُلٍ، فَيَبْقَى مَنْ بَقِيَ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ عَشَرَة أَوْ أَكْثَرَ، أَوْ أَقَلَّ فّيُؤْتِىَ النَّبِيُّ e بِعَشَائِهِ فَنَتَعَشَّى مَعَهُ، فَإِذَا فَرَغْنَا قَالَ e: نَامُوْا فيِ الْمَسْجِدِ!)
“Saya termasuk Ahlu as-Suffah, kami di saat menjelang sore mendatangi Rasul Saw, beliau pun memerintahkan setiap orang dari sahabat mengajak satu orang dari kami ke rumahnya, dan jika yang tersisa dari kami sepuluh orang, lebih atau kurang, maka Rasul Saw pun datang membawa jamuan malamnya dan kami pun diajak makan bersama dengannya. Setelah kami makan malam beliau berkata: “tidurlah di masjid.””[[6]]
Jika Rasul Saw seperti ini, kenapa di sana masih ada saja yang merasa hina jika menginjakkan kaki di gubuk tua fakir-miskin, tersenyum sinis melirik para gelandangan di pinggir jalan, dan memandang hina para pengamen? Bukankah mereka saudara kita sendiri yang butuh uluran tangan kemanusiaan? Pudarnya nilai-nilai kehambaan dalam diri masyarakat sebab hilangnya kepekaan dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Kelompok seperti ini mendapatkan teguran keras dari ayat Al-Qur’an di bawah ini:
“orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, padahal setiap dari mereka punya hak yang sama untuk (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah.” (QS. An-Nahl [16]: 71)
Kehambaan yang menyadari hakikat-hakikat penciptaan setiap entitas kehidupan adalah kehambaan yang melihat setiap jenis makhluk punya hakikat yang sama, memberikan layanan jasa kepada mereka sama dengan apa yang mereka telah lakukan antar sesama mereka sendiri, seperti: tempat tinggal, minuman dan makanan. Hamba yang melihat dirinya tidak lain kecuali hanyalah salah satu makhluk dari pelbagai makhluk Allah akan memperlakukan mereka dengan penuh kemanusiaan, tidak membuat mereka langkah dengan segala bentuk penyiksaan.
Jika dari mereka ada yang bertanya: “kenapa saya wajib berlaku baik terhadap makhluk-makhluk itu? Bukankah mereka tercipta untuk dipergunakan manusia sesuai dengan keinginan mereka?”
Kepada Anda Al-Qur’an menjawab:
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.” (QS.al-Isra’ [17]: 44)
Hematnya, selagi hakikat penciptaan kita dengan mereka sama, tercipta untuk melantunkan pujian terhadap-Nya, maka sepatutnya kita memperlakukan mereka dengan wajar.
Ini telah dicontohkan oleh Abdul Muttalib, kakek Nabi Muhammad Saw. Beliau masyhur di kalangan bangsa Arab dengan sebutan al-Fayyâdh (sangat pemurah) dan Mut’im Taer as-Samâ’ (penyuguh makanan terhadap burung-burung lepas yang beterbangan di angkasa). Beliau dikenal dengan gelar-gelar itu karena murah hati dan senantiasa menyuguhkan makanan kepada burung dan binatang buas di puncak gunung. [[7]]
Bukan hanya itu, hamba yang bijak hamba yang dituntun mengungkap makna-makna kehidupan yang dicontohkan oleh setiap jenis makhluk. Olehnya itu, tidak berlebihan jika Ustadz Said Nursi menyatakan bahwa beliau telah berguru dari ratusan guru (maksudnya ia telah memetik makna-makna kehidupan dan ketuhanan dari hewan, tumbuhan dan entitas kehidupan lain di muka bumi ini. Beliau mencontohkannya dengan kehidupan lalat yang menjadi cleaning service gratis untuk manusia dengan memakan kuman-kuman penyakit yang terdapat di tong-tong sampah pada musim panas. Tentunya, itu melukiskan kesempurnaan penciptaan Allah SWT). [[8]]
Kehambaan yang memberi terang kehambaan yang senantiasa membisikkan kelemahan dan kefakiran di hadapan Allah SWT. Hamba yang senantiasa berdoa meminta taufiq-Nya dalam meninggalkan kemaksiatan dan mengerjakan ketaatan.
Syekh Ibn al-Atsîr berkata:
“Hakikat kehambaan adalah menampakkan kelemahan dan kefakiran di hadapan Allah SWT dengan meminta pertolongan dari-Nya atas segala usaha yang telah dan sedang dilakukan.”[[9]]
Pendek kata, kehambaan yang mengisi rongga-rongga kehidupan dengan lantunan-lantunan ilmu-ilmu ilahi adalah kehambaan yang mendorong seseorang untuk taat beribadah, bersyukur dan memuji kebesaran-Nya, mengetahui batas-batas hukum, menegakkan cinta amal, menghargai sesama, rendah diri yang jauh dari kesombongan, merasa lemah dan butuh perlindungan dan tuntunan-Nya, serta memahami hakikat penciptaan setiap entitas kehidupan dan memperlakukan mereka dengan wajar.
Di sana masih banyak sentuhan-sentuhan makna yang terselubung di balik kehambaan. Kepada pemerhati tema-tema keislaman tulisan ini mengajak Anda untuk menyuarakan sepatah kata berikut ini:
“bangun moral bangsa dengan membentuk kepribadian, perbaiki jati diri dengan menghidupkan nilai-nilai kehambaan! Bangsa kita tidak terpuruk, dunia Islam tidak bersatu dan tidak mampu menyaingi kemajuan yang telah dicapai dunia Barat, kecuali nilai-nilai kehambaan umat telah redup di hati generasi muda Islam. Hidupkan dan kobarkan kembali! Tidak ada yang dapat membumikannya kecuali Anda sendiri. Olehnya itu, sebelum Anda melakukan sesuatu, tanyalah diri Anda dengan pertanyaan ini: “apakah pekerjaan ini sesuai dengan nilai-nilai kehambaanku?”
Dalam diri Rasul Saw terdapat keteladanan bagi mereka yang ingin tahu sejauh mana beliau memaknai setiap detik dari kehidupan ini dengan makna-makna kehambaan. Dia adalah hamba sempurna yang mengumpulkan semua sifat-sifat baik yang ada dalam diri setiap hamba. Mari bersama-sama meneladani kehambaan beliau!”


Catatan Kaki:
[1] at-Tahrîr wa at-Tanwîr, vol, 1, hlm. 134
[2] Tafsir Imam al-Qusyairi, vol. 14, hlm. 16
[3] Ibid, vol. 7, hlm. 436
[4] Hadits ini diriwayatkan Ibn Saad dengan sanad yang baik, dan diriwayatkan juga Abu Ya’lâ dari Ãisyah. Di periwayatan Mursal al-Baihaqî dari Yahya bin Abi Katsîr hadits ini datang dengan tambahan lafadz (sesungguhnya saya hanyalah hamba: (فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ. [lihat: Imam az-Zaelaiy, Kasyful Khafâ, hadits, no: 15, hlm. 18].
[5] mereka adalah sahabat-sahabat nabi dari kaum Muhajirin yang terlambat hijrah ke Madinah. Karena mereka tidak datang ke Madinah saat Rasul Saw mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, maka mereka pun tidak mempunyai tempat tinggal dan harta. Olehnya itu, Rasul Saw membangun tempat khusus untuk mereka di belakang mesjidnya (masjid Madinah sekarang) yang dikenal dengan Suffah. [lihat: tim penyusun dari guru-guru besar Jurusan Dakwah, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo, Wasâil Tablîgh ad-Da'wah al-Islâmiyah wa Asâlîbiha, hlm. 29].
[6] Lihat: Syekh Abu Naîm Ahmad bin Abdillah, Hilyah al-Auliyâ’ wa Tabaqât al-Ashfiyaâ’, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, cet. 1, 1409 H/1988 M, vol. 1, hlm. 352
[7] Lihat: Istîtah Abdul Hamîd Abdul Hamîd, Dirâsât fi as-Sîrah an-Nabawiyyah, vol. 1, hlm. 58
[8] Lihat: Bediuzzaman Said Nursi, Masâil Daqîqah fil Ushûl wal Aqîdah, hlm. 5
[9] Imam Ibn al-Atsîr al-Mubarâk bin Muhammad al-Jazari, an-Nihâyah fi Gharîb al-Hadîts wal Atsar, ditahkik oleh Thâhir Ahmad az-Zâwi dan Mahmûd Muhammad at-Thanâhi, Dar Ihya’ at-Turâts al-Arabi, vol. 1, hlm. 465


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17159/aku-belum-mengetahui-arti-diriku-seorang-hamba/#ixzz1h0LPy0CM